Alkisah, ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikan rendah, hidup dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati kesehariannya dengan baik.
Ibu, adalah sebuah kata yang istimewa.Banyak versi untuk menyebut seorang ibu: mama, bunda, emak, mami, embok, ummi, mother, dan lmasih banyak lagi. Namun essensinya, beliau adalah seorang perempuan mulian yang telah menggadaikan nyawanya sewaktu melahirkan kita dan mengorbankan seluruh hidupnya untuk membesarkan, menyayangi, mencintai, dan mengantarkan anak-anaknya menuju gerbang kedewasaan untuk menjadi manusia yang dewasa dan sempurna.
Mempunyai tubuh yang tidak sempurna, bukan berarti menjadi alasan untuk menyerah kepada nasib, berpangku tangan atau menyalahkan kepada takdir. Itulah alasan yang dikemukakan oleh Aban (45), yang memiliki cacat tubuh sejak lahir, sehingga bisa menikmati kehidupan sebagaimana dijalani orang normal pada umumnya. Ia kini memiliki sebuah usaha yang cukup memadai, yang ia sebut sebagai “bengkel berjalan”.
ikisahkan, ada seorang gadis muda yang bertekad membantu desa asalnya yang miskin dan terbelakang. Dia rajin mengusahakan segala daya upaya untuk bisa menghasilkan uang guna membeli buku dan perlengkapan sekolah anak-anak di sana. Tetapi, sehebat apapun usahanya, terasa masih saja serba kekurangan.
Pembaca, saya ingin share kepada Anda soal kekuatan dari mengatakan
TIDAK dalam hidup kita. Bukankah kita lebih banyak diajar untuk
mengatakan YA kepada orang lain serta tidak menolak orang lain, sejak
kita masih kecil.
TIDAK dalam hidup kita. Bukankah kita lebih banyak diajar untuk
mengatakan YA kepada orang lain serta tidak menolak orang lain, sejak
kita masih kecil.
“Aku sayang samo ibu. Aku ndak membahagiakan ibu. Kasian ibu baru keluar dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ),” ujar anak usia 11 tahun, M Kelvin, lirih. Ia tak sanggup menahan air matanya, saat menceritakan kisahnya kepada penulis, Rabu (28/12). M Kelvin, siswa kelas V SDN 06 Kelurahan Banyumas, Kecamatan Curup Tengah, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu ini sudah menjadi tulang punggung keluarga sepeninggal ayahnya, karena menikah lagi dengan perempuan lain.
Connect With Us
Recommend us on Google!


